Polinela, Jum’at (18/07/2025).Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui Program Studi Magister Terapan Ketahanan Pangan (MTKP) dengan menggelar kegiatan Pendampingan Penguatan Modal Sosial Kelompok Tani dalam Penerapan Pertanian Organik. Kegiatan ini diselenggarakan di Pusat Pelatihan (PP) Gapsera, Lampung Tengah, pada 17 Juli 2025.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Jakty Kusuma, Ph.D., ini melibatkan seluruh dosen Prodi MTKP serta menghadirkan dua narasumber utama yaitu Dr. Irmayani Noer, Ketua Pengelola Program Pascasarjana Polinela, dan Mr. Marc Ligthart, pakar rantai pasok (supply chain expert) dari PUM Netherlands yang telah berkiprah lebih dari dua dekade dalam pengembangan pertanian organik global.
Dalam pemaparannya, Dr. Irmayani menekankan pentingnya membangun kohesi sosial antarpetani sebagai landasan dalam penguatan kelembagaan kelompok tani dan keberlanjutan sistem pertanian. “Kohesivitas bukan hanya soal kerja sama, tetapi juga tentang bagaimana petani membangun kepercayaan, berbagi pengetahuan, dan bergerak bersama dalam satu visi,” ungkapnya.
Sementara itu, Mr. Marc Ligthart memberikan wawasan praktis mengenai strategi menjaga kualitas produk organik sebagai prasyarat utama dalam proses sertifikasi. Ia menyoroti pentingnya pemisahan total antara aktivitas pertanian organik dan non-organik. “Tanpa pemisahan yang jelas, produk organik tidak akan pernah mendapat pengakuan resmi, baik di pasar domestik maupun internasional,” tegasnya.
Tak hanya melibatkan dosen dan petani, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran aktif bagi mahasiswa MTKP Polinela. Mereka tidak hanya berpartisipasi sebagai peserta, tetapi juga turut berdiskusi, menyampaikan pandangan, dan terlibat langsung dalam praktik lapangan. Hal ini sejalan dengan misi program studi dalam menghasilkan lulusan yang unggul, aplikatif, dan relevan dengan tantangan ketahanan pangan nasional.
Dalam sesi penutupan, Ketua Pengelola PP Gapsera, Sukarlin, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Polinela. “Kalau Indonesia memang negara agraris, maka yang pertama kali harus dimajukan adalah petaninya. Tanpa petani yang kuat, kita akan terus tertinggal dalam urusan pangan,” ujarnya penuh semangat.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata sinergi antara pendidikan tinggi, komunitas petani lokal, dan mitra internasional dalam membangun sistem pertanian organik yang berkelanjutan. Di tengah meningkatnya permintaan terhadap produk organik, terutama beras, pelatihan seperti ini menjadi sangat relevan dalam mendorong kemandirian pangan lokal yang sehat dan ramah lingkungan.





